Haiii friend.
Saya Zainul umar
Bayangkan sebuah desa yang sedang bersiap membangun jalan baru. Rencana sudah disusun, anggaran sudah disiapkan. Tapi ketika alat berat mulai datang, warga malah protes. “Kenapa jalan ini? Kami lebih butuh saluran air.” Proyek pun tertunda. Ujungnya: anggaran habis, kepercayaan hilang, dan masyarakat kecewa.
Itu bukan cerita fiktif. Itu kenyataan di banyak tempat. Dan kalau ditelusuri lebih dalam, akar masalahnya seringkali bukan pada dana atau teknis, tapi pada komunikasi yang gagal menyentuh realitas warga.
Komunikasi dalam Pembangunan Bukan Sekadar Pengumuman
Selama bertahun-tahun, komunikasi dalam pembangunan dipahami sebagai pengumuman: “Kami akan membangun ini. Mohon dukungan.” Titik. Masyarakat diminta menerima, bukan berdiskusi.
Tapi dunia berubah. Masyarakat semakin cerdas, semakin kritis, dan semakin ingin didengar. Mereka bukan hanya penonton pembangunan, tapi juga pelaku yang punya kebutuhan, aspirasi, bahkan solusi.
Di sinilah titik baliknya. Komunikasi pembangunan hari esok harus jauh lebih dari sekadar menyampaikan. Ia harus menjadi ruang mendengar. Bukan top-down, tapi dialog. Bukan pengarah, tapi penghubung.
Apa Artinya Inklusif dalam Komunikasi Pembangunan?
Banyak yang memakai kata “inklusif” dalam dokumen dan laporan. Tapi apakah betul kita paham maknanya?
Inklusif bukan berarti semua diundang dalam satu forum besar lalu dianggap selesai. Inklusif itu ketika ibu-ibu rumah tangga yang biasanya diam mulai angkat bicara. Ketika pemuda dusun yang biasa tak dianggap, diajak menyusun program. Ketika masyarakat adat tidak hanya diminta hadir, tapi dilibatkan sejak awal.
Komunikasi yang inklusif tidak memaksa semua orang bicara dengan cara yang sama. Ia memberi ruang pada keberagaman cara menyampaikan pendapat. Ada yang nyaman lewat forum, ada yang lebih suka bicara satu-satu, ada pula yang menyampaikan lewat karya atau simbol budaya. Semua itu sah.
Nyata Bukan Berarti Heboh, Tapi Relevan
Kita hidup di era di mana visual penting, presentasi harus keren, dan konten harus menarik. Tapi komunikasi pembangunan yang efektif tak perlu wah. Yang penting: nyata. Nyata artinya relevan. Membahas hal yang dekat, menyentuh keseharian warga.
Menyusun rencana pertanian? Maka komunikasinya harus menyentuh soal cuaca, pupuk, harga pasar, bukan sekadar terminologi teknis.
Membangun fasilitas pendidikan? Maka komunikasinya harus membahas akses anak-anak ke sekolah, beban guru, atau harapan orang tua—bukan hanya soal gedung.
Komunikasi yang nyata selalu dimulai dengan satu pertanyaan penting: “Apa yang penting bagi mereka?” Bukan “apa yang ingin kita promosikan”.
Komunikasi yang Membangun, Bukan Menundukkan
Dalam sejarah pembangunan, kita sering melihat komunikasi digunakan untuk meyakinkan masyarakat bahwa program pemerintah pasti benar. Tapi pendekatan ini sudah tidak lagi relevan. Hari ini, komunikasi yang efektif adalah yang membangun rasa percaya, bukan rasa takut.
Kalau ada penolakan, jangan buru-buru anggap warga tidak paham. Bisa jadi mereka paham, justru karena itu mereka menolak. Karena yang mereka lihat, program itu tidak menjawab kebutuhan mereka.
Komunikasi pembangunan hari esok adalah tentang membuka ruang kesetaraan, di mana masyarakat bisa bertanya, membantah, bahkan mengusulkan. Justru dari situ pembangunan menjadi lebih kuat, karena dibangun bersama.
Berkelanjutan Bukan Hanya Soal Lingkungan
Kata “berkelanjutan” sering dihubungkan dengan lingkungan: hutan, air, energi. Tapi dalam konteks komunikasi pembangunan, berkelanjutan artinya tidak putus di tengah jalan.
Komunikasi tidak berhenti di awal proyek. Ia harus terus hadir, bahkan setelah program selesai. Menyediakan ruang untuk mengevaluasi bersama. Menyapa warga dengan jujur jika ada kendala. Menjadi pengingat bahwa pembangunan adalah proses panjang, bukan acara satu kali.
Berkelanjutan juga berarti membangun kapasitas lokal. Ajarkan masyarakat cara membaca informasi, cara menyampaikan aspirasi, cara berdiskusi sehat. Komunikasi yang baik akan menciptakan masyarakat yang mandiri, bukan tergantung terus pada fasilitator luar.
Teknologi Digital: Alat, Bukan Jawaban
Hari ini, banyak yang berharap media sosial bisa menyelesaikan masalah komunikasi. Tapi media sosial hanyalah alat. Ia bisa mempercepat, memperluas, tapi tetap butuh arah dan isi.
Kalau pesannya membingungkan, tidak akan nyambung, meskipun sudah dibuat infografis. Kalau bahasanya terlalu formal, masyarakat tetap akan merasa asing meskipun dikirim lewat WhatsApp.
Teknologi perlu dipakai secara cerdas. Pilih medium yang sesuai. Gunakan bahasa yang akrab. Jangan terlalu banyak istilah teknis. Dan yang paling penting: gunakan teknologi untuk mendekatkan, bukan menggantikan sentuhan langsung.
Haruskah Komunikasi Pembangunan Selalu Serius?
Tidak juga. Humor bisa menjadi jembatan yang kuat. Cerita bisa lebih mudah dipahami daripada angka. Lagu, teater rakyat, mural—semua itu bisa jadi sarana komunikasi yang jauh lebih efektif daripada brosur atau banner.
Serius tidak selalu harus kaku. Justru lewat pendekatan yang kreatif, komunikasi bisa masuk lebih dalam, menyentuh hati, dan memicu perubahan.
Siapa yang Bertanggung Jawab?
Pertanyaan yang sering muncul: siapa yang seharusnya menjalankan komunikasi pembangunan?
Jawabannya: semua pihak. Pemerintah, LSM, akademisi, tokoh masyarakat, media, dan warga sendiri. Ini bukan pekerjaan satu lembaga, tapi kerja bersama. Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang dibangun dengan gotong royong.
Kunci utamanya adalah kesediaan untuk mendengar. Kesediaan untuk belajar dari lapangan. Dan kesediaan untuk mengubah pendekatan jika ternyata tidak relevan.
Penutup: Menuju Masa Depan yang Lebih Manusiawi
Komunikasi pembangunan hari esok bukan hanya tentang menyampaikan program. Ia adalah jantung dari proses perubahan.
Agar pembangunan benar-benar dirasakan dan dimiliki oleh semua orang, maka komunikasinya harus inklusif, nyata, dan berkelanjutan. Tidak perlu sempurna. Tapi harus tulus.⭐✨
Komentar
Posting Komentar