Langsung ke konten utama

Merajut Citra Diri yang Autentik: Nilai-Nilai dalam Hubungan IMC dan Human Relations

Hai semuanya, kembali lagi dengan saya Zainul umar mahasiswa semester 4 dari Universitas Mpu Tantular pada kali ini saya akan membahas Merajut Citra Diri yang Autentik: Nilai-Nilai dalam Hubungan IMC dan Human Relations mata kuliah IMC ini dosen pengampu yaitu ibu Serepina Tiur Maida, S.Sos., M.pd.,

Di tengah era digital yang serba transparan dan kompetitif, setiap individu maupun organisasi menghadapi tantangan besar: membangun dan mempertahankan citra diri. Citra diri tidak lagi hanya milik tokoh publik atau korporasi besar. Kini, setiap orang yang memiliki jejak digital—baik di media sosial, platform profesional, atau interaksi komunitas—dituntut untuk mampu mengelola citranya secara sadar dan strategis.

Di sinilah peran dua elemen penting menjadi sangat relevan: Integrated Marketing Communication (IMC) dan Human Relations. Keduanya berperan besar dalam membentuk bagaimana seseorang dipersepsikan, dipercaya, dan diterima oleh lingkungannya. Namun lebih dari itu, keduanya juga menanamkan nilai-nilai dasar yang penting untuk membangun citra diri yang kuat, positif, dan autentik.

Memahami IMC: Strategi Komunikasi yang Konsisten dan Terarah

Integrated Marketing Communication (IMC) merupakan pendekatan komunikasi terpadu yang awalnya dikembangkan dalam dunia pemasaran untuk memastikan pesan yang disampaikan ke publik tetap konsisten di berbagai saluran. IMC menekankan pada kesatuan suara (unified voice) dan identitas yang terjaga, baik melalui iklan, hubungan masyarakat, media sosial, maupun komunikasi interpersonal.

Namun konsep IMC tidak terbatas hanya pada perusahaan atau produk. Dalam era personal branding, individu juga menerapkan prinsip IMC secara tidak langsung. Misalnya:

Seorang profesional yang menyelaraskan tampilan LinkedIn, gaya komunikasi, dan isi media sosialnya sesuai nilai-nilai yang ingin ditampilkan.

Seorang aktivis yang konsisten menyuarakan nilai keadilan sosial dalam setiap forum, baik daring maupun luring.


IMC dalam konteks personal branding membantu seseorang membangun citra diri yang:

- Terpadu

- Jelas

- Terarah

- Mudah dikenali

Namun, konsistensi dan kejelasan tidak cukup jika tidak diiringi dengan hubungan antarmanusia yang sehat dan bernilai, yang menjadi ranah dari human relations.

Human Relations: Jiwa di Balik Komunikasi

Jika IMC adalah kerangka dan strategi, maka human relations adalah ruh-nya. Human relations berbicara tentang bagaimana seseorang membangun, menjaga, dan memelihara hubungan interpersonal berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan. Ini meliputi empati, respek, komunikasi dua arah, dan pengakuan terhadap martabat manusia.

Citra diri yang hanya dibentuk melalui pesan yang dipoles tanpa disertai kualitas hubungan yang baik akan cepat kehilangan maknanya. Dalam jangka panjang, orang lebih mempercayai individu yang mampu:

- Mendengarkan

- Memberi dukungan

- Membangun relasi tanpa pamrih

- Bertindak secara etis

Hubungan interpersonal yang baik tidak hanya memperkuat reputasi, tetapi juga membentuk persepsi bahwa seseorang layak dipercaya dan dijadikan mitra.

Nilai-Nilai yang Tertanam dalam Hubungan IMC dan Human Relations

Ketika IMC dan human relations saling melengkapi dalam pembentukan citra diri, maka akan muncul sejumlah nilai kunci yang menjadi pondasi kokoh dalam berkomunikasi dan membentuk persepsi publik.

1. Konsistensi

IMC mengajarkan pentingnya menyampaikan pesan yang tidak saling bertentangan. Konsistensi ini menciptakan kejelasan dalam siapa diri kita di mata orang lain. Namun, konsistensi juga harus tercermin dalam perilaku, bukan hanya dalam pesan.

2. Keaslian (Authenticity)

Citra diri yang dibangun berdasarkan strategi IMC namun tidak berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan akan terasa palsu. Human relations memastikan bahwa konsistensi dalam komunikasi tetap berakar pada keaslian dan kejujuran dalam menjalin hubungan.

3. Empati

Hubungan yang hangat lahir dari kemampuan untuk memahami perasaan dan kebutuhan orang lain. Empati membuat komunikasi lebih bermakna dan menyentuh secara emosional, sesuatu yang tak bisa digantikan oleh strategi IMC semata.

4. Relevansi

IMC mengajarkan bahwa pesan harus relevan dengan audiens. Dalam konteks hubungan manusia, relevansi ini muncul saat kita benar-benar memahami konteks sosial dan budaya dari orang yang kita ajak bicara.

5. Respek

Citra diri yang baik tidak dibangun dengan menjatuhkan orang lain atau memaksakan pesan. Human relations menanamkan pentingnya rasa hormat, toleransi, dan pengakuan atas perbedaan sebagai bagian dari komunikasi yang etis.

6. Integritas

Konsistensi antara kata dan perbuatan adalah nilai kunci dalam hubungan jangka panjang. Integritas memastikan bahwa citra diri bukan hanya penampilan, tapi juga cerminan karakter.

Penerapan Nilai-Nilai Ini dalam Kehidupan Nyata

Mari kita lihat bagaimana perpaduan IMC dan human relations membentuk citra diri dalam kehidupan sehari-hari:

Kasus 1: Seorang Profesional Muda

Ia ingin dikenal sebagai pribadi yang inovatif dan kolaboratif. Maka ia:

- Menulis konten LinkedIn seputar inovasi.

- Terlibat dalam proyek kerja tim.

- Menanggapi rekan kerja dengan ramah dan terbuka.


IMC: Ada konsistensi dalam pesan yang ia sampaikan.
Human Relations: Hubungan personalnya memperkuat kepercayaan orang lain terhadapnya.

Kasus 2: Seorang Aktivis Sosial

 Ia aktif dalam kampanye hak perempuan. Dalam setiap kesempatan, ia:

- Konsisten berbicara tentang kesetaraan gender.

- Membangun jejaring komunitas dengan penuh empati.

- Mendengarkan korban dengan kesabaran dan hati yang terbuka.

IMC: Pesan dan visinya tersampaikan jelas.
Human Relations: Ia membangun relasi emosional yang kuat dengan komunitasnya.

Tantangan dalam Menjaga Keseimbangan

Meski terlihat ideal, menjaga keseimbangan antara IMC dan human relations dalam pembentukan citra diri tidaklah mudah. Beberapa tantangan yang sering muncul antara lain:

Terlalu fokus pada pencitraan (image-oriented) sehingga hubungan personal menjadi dangkal.

Over-sharing di media sosial yang justru merusak citra diri jika tidak diiringi dengan kontrol pesan.

Tekanan sosial untuk menampilkan "versi sempurna diri", padahal ketulusan lebih disukai audiens masa kini.

Kuncinya terletak pada kesadaran diri dan refleksi terus-menerus. Citra diri terbaik bukan dibangun untuk menyenangkan semua orang, tapi untuk mencerminkan nilai-nilai yang kita pegang dan kontribusi yang kita ingin berikan pada dunia.


Kesimpulan

Dalam dunia yang dibanjiri oleh pesan, branding, dan pencitraan, kita butuh kembali pada nilai-nilai esensial: keaslian, empati, konsistensi, dan integritas. Hubungan antara IMC dan human relations menawarkan pendekatan menyeluruh dalam membangun citra diri yang tidak hanya terlihat baik, tetapi juga benar-benar bermakna.

Citra diri yang baik bukan hanya tentang apa yang kita tampilkan di luar, tetapi juga tentang bagaimana kita membangun hubungan, memperlakukan orang lain, dan berkomunikasi dengan hati. IMC memberi kita arah, human relations memberi kita kedalaman. Dan ketika keduanya berjalan beriringan, citra diri yang terbentuk bukan hanya kuat di mata orang lain, tapi juga utuh dalam diri sendiri.


Referensi : - ibu Serepina Tiur Maida, S.Sos., M.pd.,  

http://digilib.unila.ac.id/63256/3/03.%20SKRIPSI%20JENNY%20WULAN%20SURYANI%20TANPA%20BAB%20PEMBAHASAN.pdf

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Korupsi di Indonesia: Luka Lama yang Terus Menganga

 Hai semuanya, kembali lagi dengan saya Zainul umar mahasiswa semester 4 dari Universitas Mpu Tantular pada kali ini saya akan membahas Korupsi di Indonesia: Luka Lama yang Terus Menganga pada mata kuliah komunikasi pembangunan dan perubahan sosial ini dosen pengampu yaitu ibu Serepina Tiur Maida, S.Sos., M.pd., Perlu di ketahui korupsi di Indonesia sudah merajalela bahkan ngerugiin negara dan rakyat belum ada hukum yang menyerang pada korupsi.  Korupsi adalah salah satu persoalan terbesar yang menghambat kemajuan Indonesia. Sebagai tindakan penyalahgunaan kekuasaan untuk keuntungan pribadi, korupsi tidak hanya menimbulkan kerugian materiil bagi negara, tetapi juga menghancurkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem pemerintahan dan hukum. Dalam berbagai survei dan laporan internasional seperti Corruption Perceptions Index yang dirilis Transparency International, Indonesia masih berada di peringkat yang kurang menggembirakan. Hal ini menunjukkan bahwa korupsi bukan hanya pers...

Berfikir kreatif dalam kewirausahaan

 Hai semuanya, kembali lagi dengan saya orang tertamvan Zainul umar mahasiswa semester 4 dari Universitas Mpu Tantular pada kali ini saya akan membahas  Proses kewirausahaan dan karakter kreativitas yang berbasis bisnis pada mata kuliah ini dosen pengampu yaitu ibu Serepina Tiur Maida, S.Sos., M.pd., Saya akan menjelaskan Berfikir kreatif dalam kewirausahaanuntuk memberikan ilmu yang bermanfaat bagi yang membaca blog saya dan tidak pelit ilmu dan saya akan berikan pengatahuan untuk berwawasan tinggi.  Diiringi dengan kemajuan teknologi, globalisasi, dan perubahan gaya hidup masyarakat, perkembangan zaman yang pesat telah menimbulkan tantangan besar sekaligus peluang besar di bidang ekonomi dan kewirausahaan. Dalam kondisi seperti ini, wirausahawan yang fleksibel dan kreatif sangat dibutuhkan. Namun, wirausahawan modern tidak hanya perlu memiliki kemampuan teknis dan keberanian mengambil risiko; mereka juga perlu memiliki daya pikir kreatif yang kuat untuk membangun, men...