Hai sobat, saya Zainul umar selamat dateng kembali di blogger saya , selamat membaca
Ada satu kenyataan yang makin hari makin sulit dihindari: dunia berubah terlalu cepat, sementara banyak cara berkomunikasi dalam pembangunan masih tertinggal di masa lalu.
Di banyak tempat, kita masih melihat pendekatan komunikasi pembangunan yang bersifat satu arah, formal, bahkan terkadang kaku. Padahal masyarakat yang kita hadapi sekarang sudah tidak lagi sama seperti dulu. Mereka lebih aktif, lebih kritis, lebih melek teknologi, dan lebih berani menyampaikan pendapat.
Pertanyaannya: sudah siapkah komunikasi pembangunan menghadapi tantangan zaman yang bergerak tanpa henti ini?
Dunia yang Tidak Diam
Dulu, kita bicara pembangunan dalam konteks fisik: membangun jembatan, memperluas jalan, menyediakan listrik. Hari ini, pembangunan adalah soal kualitas hidup, ketahanan lingkungan, partisipasi warga, keadilan sosial, hingga pemulihan dari krisis.
Bersamaan dengan itu, komunikasi ikut berubah. Bukan hanya sekadar menyampaikan informasi, tapi menjadi alat untuk mendengar, merangkul, bahkan merawat hubungan. Tapi perubahan ini tidak otomatis terjadi. Banyak sekali tantangan yang harus dihadapi, dan semuanya butuh keberanian untuk mengakui bahwa cara lama tak lagi cukup.
Tantangan Pertama: Masyarakat Tak Lagi Diam
Salah satu tantangan paling nyata adalah perubahan sikap masyarakat. Hari ini, orang tidak sekadar menerima informasi. Mereka menilai, membandingkan, mempertanyakan. Media sosial membuka ruang bagi siapa pun untuk bicara, bahkan menyanggah.
Ini bagus. Tanda masyarakat hidup. Tapi bagi sebagian pihak yang terbiasa dengan komunikasi top-down, ini bisa terasa mengganggu. Dulu cukup dengan sosialisasi, sekarang masyarakat ingin duduk semeja.
Di sinilah pentingnya komunikasi pembangunan yang tidak defensif. Kita tidak perlu takut pada kritik, justru harus menggunakannya sebagai masukan. Kuncinya: rendah hati dan terbuka.
Tantangan Kedua: Teknologi yang Bergerak Lebih Cepat dari Pemahaman
Teknologi memberi peluang besar, tapi juga menghadirkan jebakan. Saat ini, banyak proyek pembangunan menggunakan media sosial, infografis, bahkan aplikasi digital untuk menjangkau warga. Tapi kadang-kadang, semua itu hanya jadi formalitas.
Pertanyaannya bukan sekadar “apakah kita sudah pakai teknologi?”, tapi:
“apakah teknologi itu menjangkau semua kalangan?”
“apakah isinya bisa dimengerti oleh warga biasa?”
Karena tidak semua orang punya akses internet yang stabil. Tidak semua paham istilah teknis. Dan tidak semua nyaman membaca PDF panjang berisi laporan program.
Maka, teknologi harus dilihat sebagai alat, bukan solusi tunggal. Yang penting adalah isinya, caranya, dan bagaimana ia menyentuh kehidupan nyata.
Tantangan Ketiga: Komunikasi yang Terjebak Formalitas
Seringkali komunikasi pembangunan masih terjebak pada gaya komunikasi administratif. Bahasa kaku, terlalu teknis, dan tidak menjawab pertanyaan dasar masyarakat:
“Apa manfaatnya untuk kami?”
Kalau masyarakat hanya dapat informasi dalam bentuk spanduk dan brosur yang isinya jargon, jangan heran kalau mereka tidak terlibat. Karena sejatinya, komunikasi pembangunan yang efektif adalah yang terasa dekat.
Sampaikan dengan cara yang bisa dipahami, dalam bahasa yang akrab, melalui media yang benar-benar digunakan. Kadang, obrolan di warung kopi bisa lebih berpengaruh daripada seminar ber-AC.
Menyongsong Masa Depan: Apa yang Bisa Dilakukan?
Kita tidak bisa menghindari masa depan. Tapi kita bisa bersiap.
Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menjawab tantangan-tantangan tadi:
Berhenti menganggap masyarakat tidak paham. Mereka tahu, hanya sering tidak diberi ruang.
Gunakan bahasa yang ramah, bukan rumit. Komunikasi bukan ajang pamer istilah teknis.
Dengarkan lebih banyak, bicara secukupnya. Komunikasi yang efektif selalu dimulai dengan mendengar.
Bangun komunikasi dua arah, bukan sekadar laporan.
Libatkan warga sejak awal, bukan hanya di akhir.
Perkuat peran media lokal dan tokoh komunitas.
Evaluasi terus cara berkomunikasi apakah benar-benar dipahami, atau hanya terlihat sibuk?
Penutup: Masa Depan Dimulai dari Cara Kita Bicara Hari Ini
Masa depan komunikasi pembangunan bukan soal teknologi canggih atau strategi komunikasi mahal. Tapi soal keberanian untuk berubah, membuka diri, dan membangun kepercayaan.
Komunikasi yang baik bukan hanya membuat program berjalan, tapi membuat masyarakat merasa dihargai, dilibatkan, dan punya peran.
Jika kita ingin pembangunan yang adil dan berkelanjutan, maka kita juga harus menyiapkan komunikasi yang jujur dan manusiawi. Karena pada akhirnya, yang membangun bukan hanya anggaran dan kebijakan, tapi juga rasa saling percaya dan itu dimulai dari komunikasi.⭐💫🌟
Komentar
Posting Komentar