komunikasi pembangunan dan perubahan sosial : Kapasitas penggola dan pengajar sekolah Rakyat/Non formal
Hai semuanya, kembali lagi dengan saya Zainul umar mahasiswa semester 4 dari Universitas Mpu Tantular pada kali ini saya akan membahas mata kuliah komunikasi pembangunan dan perubahan sosial : Kapasitas penggola dan pengajar sekolah Rakyat/Non formal ini dosen pengampu yaitu ibu Serepina Tiur Maida, S.Sos., M.pd.,
Kali ini saya zainul umar dan maulida tsabita akan membahas dengan tema yaitu : Strategi Pelibatan Masyarakat dalam Pendidikan dan Monitoring dan Evaluasi Program Belajar Non Formal
1. Strategi Pelibatan Masyarakat dalam Pendidikan
A. Pengertian Pelibatan Masyarakat dalam Pendidikan
Pelibatan masyarakat dalam pendidikan adalah proses aktif yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk orang tua, tokoh masyarakat, organisasi lokal, hingga dunia usaha dalam kegiatan pendidikan. Ini mencakup partisipasi dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi proses belajar mengajar. Konsep ini penting karena pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah dan pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat.
B. Tujuan Pelibatan Masyarakat
1. Meningkatkan kualitas pendidikan.
2.Menumbuhkan rasa memiliki terhadap program pendidikan.
3. Memperkuat transparansi dan akuntabilitas lembaga pendidikan.
4. Memberdayakan masyarakat agar berperan aktif dalam pembangunan manusia.
C. Bentuk-Bentuk Pelibatan Masyarakat
Pelibatan fisik dan material: Pembangunan infrastruktur sekolah, donasi buku, alat belajar, dan bantuan dana.
Pelibatan moral dan sosial: Menjadi narasumber, mendampingi kegiatan belajar, dan ikut dalam pengambilan keputusan melalui komite sekolah.
Pelibatan intelektual: Membantu dalam pengembangan kurikulum lokal atau kegiatan belajar berbasis kearifan lokal.
D. Strategi Efektif Pelibatan Masyarakat
1. Kemitraan Sekolah dan Komite Sekolah
Meningkatkan peran komite sekolah sebagai jembatan antara sekolah dan masyarakat. Komite bisa dilibatkan dalam pengawasan, usulan kebijakan, hingga pengumpulan dana bantuan.
2. Transparansi dan Komunikasi Aktif
Sekolah perlu menyediakan ruang komunikasi dua arah dengan orang tua dan masyarakat, misalnya melalui forum warga sekolah, pertemuan rutin, atau penggunaan media sosial.
3. Pemberdayaan Masyarakat
Pelatihan keterampilan atau parenting untuk orang tua agar mereka bisa mendukung anak belajar di rumah secara efektif.
4. Kolaborasi Lintas Sektor
Melibatkan LSM, dunia usaha, dan tokoh masyarakat dalam program mentoring, magang, atau beasiswa.
5. Pendidikan Berbasis Masyarakat
Menyesuaikan materi pembelajaran dengan potensi lokal agar relevan dengan kebutuhan komunitas. Misalnya, mengajarkan keterampilan pertanian di desa agraris.
E. Tantangan dalam Pelibatan Masyarakat
Kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan.
Komunikasi yang tidak efektif antara sekolah dan masyarakat.
Keterbatasan sumber daya atau dana.
Adanya perbedaan persepsi antara pihak sekolah dan masyarakat.
F. Contoh Praktik Baik
Program “Sekolah Sahabat Keluarga” oleh Kemendikbud yang mendorong keterlibatan orang tua.
Kolaborasi sekolah dan dunia usaha dalam pendidikan vokasi.
Gotong royong masyarakat dalam perbaikan sarana pendidikan di daerah tertinggal.
2. Monitoring dan Evaluasi Program Belajar Non Formal
A. Pengertian
Monitoring adalah kegiatan pengamatan secara terus-menerus terhadap pelaksanaan program untuk memastikan bahwa pelaksanaannya sesuai dengan rencana.
Evaluasi adalah proses penilaian terhadap efektivitas, efisiensi, dan dampak dari program belajar non formal.
Program belajar non formal meliputi kursus, pelatihan kerja, pendidikan keaksaraan, pendidikan keluarga, dan lain-lain yang tidak mengikuti sistem sekolah formal.
B. Tujuan Monitoring dan Evaluasi
1. Menilai apakah program belajar berjalan sesuai target.
2. Mengidentifikasi hambatan dalam pelaksanaan program.
3. Memberikan masukan untuk perbaikan program di masa mendatang.
4. Memastikan bahwa dana dan sumber daya digunakan secara efisien.
C. Indikator Monitoring
Jumlah peserta yang aktif.
Kehadiran dan partisipasi peserta.
Ketersediaan fasilitas belajar.
Kinerja tutor/fasilitator.
D. Indikator Evaluasi
Peningkatan kemampuan atau keterampilan peserta.
Kepuasan peserta terhadap program.
Dampak terhadap kehidupan sosial dan ekonomi peserta.
Tingkat kelulusan atau keberhasilan peserta.
E. Langkah-Langkah Monitoring dan Evaluasi
1. Perencanaan: Menyusun tujuan, indikator, metode, dan jadwal monev.
2. Pengumpulan Data: Melalui observasi, kuesioner, wawancara, dan studi dokumentasi.
3. Analisis Data: Mengevaluasi hasil pencapaian berdasarkan indikator.
4. Pelaporan: Menyusun laporan hasil monev sebagai dasar pengambilan keputusan.
5. Tindak Lanjut: Rekomendasi perbaikan program berdasarkan temuan.
F. Metode Monitoring dan Evaluasi
Formatif: Dilakukan selama program berjalan.
Sumatif: Dilakukan setelah program selesai.
Kualitatif dan Kuantitatif: Gabungan wawancara mendalam dan data statistik.
G. Tantangan dalam Monitoring dan Evaluasi
Kurangnya data yang valid dan akurat.
Rendahnya kapasitas pelaksana monev.
Terbatasnya anggaran untuk kegiatan evaluasi.
Kurangnya partisipasi peserta dalam evaluasi.
H. Studi Kasus
Misalnya, Program Kejar Paket C di daerah pedesaan yang dimonitor dengan pendekatan partisipatif, di mana peserta turut menilai metode pengajaran dan menyarankan perubahan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa peserta lebih menyukai pendekatan belajar praktik dibanding ceramah.
Kesimpulannya
Keterlibatan masyarakat dan kegiatan monitoring-evaluasi adalah kunci dalam memastikan keberhasilan pendidikan non formal. Melalui pelibatan masyarakat, pendidikan menjadi lebih relevan dan berdaya guna, sementara monitoring dan evaluasi menjadi alat untuk terus menyempurnakan mutu pendidikan secara berkelanjutan.
Referensi - ibu Serepina Tiur Maida, S.Sos., M.pd.,
Komentar
Posting Komentar