Dalam rangka memperingati Hari Kartini 2026, sebuah webinar internasional bertajuk “The Multifaceted Roles of Women in the Era of Globalization” sukses diselenggarakan melalui platform Zoom. Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Prof. Dr. Norberto Paranga Jr., Ph.D., D.Hum., D.Litt. dari Filipina sebagai narasumber luar, serta Dr. Siti Jumhati, S.ST., SKM., M.Kes sebagai narasumber dalam.
Saya Zainul umar mahasiswa semester 6 ilmu komunikasi hari ini saya akan membahas webinar Multifaceted Roles of Women in the Era of Globalization” dengan menghubngkan mata kuliah komunikasi organisasi dosen pengampu : ibu Serepina Tiur Maida, S.Sos., M.pd.,
Perempuan di Era Global: Dari Ruang Domestik ke Panggung Dunia
Ada satu hal yang selalu terasa setiap kali Hari Kartini datang: kita tidak sekadar mengenang masa lalu, tapi juga sedang bercermin pada masa kini. Di tengah semangat itulah sebuah webinar internasional bertajuk “The Multifaceted Roles of Women in the Era of Globalization” digelar. Bukan sekadar acara seremonial, tapi ruang diskusi yang benar-benar membuka perspektif tentang bagaimana perempuan hari ini bergerak, berjuang, dan memimpin.
Dilaksanakan secara daring melalui Zoom, kegiatan ini menghadirkan dua sudut pandang yang saling melengkapi. Dari luar negeri, hadir Prof. Dr. Norberto Paranga Jr., sementara dari dalam negeri ada Dr. Siti Jumhati. Keduanya tidak hanya menyampaikan data dan teori, tapi juga realitas yang sedang terjadi. Perempuan Tidak Lagi di Pinggir, Tapi di Tengah Perubahan
Dalam pemaparannya, Prof. Norberto menegaskan satu hal penting: peran perempuan sudah berubah secara fundamental. Jika dulu perempuan sering dikaitkan dengan ruang domestik, hari ini batas itu sudah lama runtuh.
Perempuan kini hadir di berbagai sektor strategis. Di pendidikan, mereka menjadi penggerak ilmu. Di dunia bisnis, mereka menciptakan inovasi dan membuka lapangan kerja. Di pemerintahan, mereka ikut menentukan arah kebijakan. Bahkan di level global, banyak perempuan yang memimpin perubahan.
Namun yang menarik, beliau menekankan bahwa kepemimpinan bukan soal jabatan. Ini poin yang sering terlewat. Banyak orang masih mengukur pemimpin dari posisi formal, padahal dampak nyata jauh lebih penting. Perempuan bisa menjadi pemimpin tanpa harus duduk di kursi tertinggi, selama mereka mampu menciptakan perubahan bagi orang lain.
Teknologi: Peluang Besar, Tapi Tidak Tanpa Masalah
Perkembangan digital juga menjadi sorotan penting. Teknologi membuka pintu yang dulu terasa tertutup. Perempuan kini bisa mengakses pendidikan secara luas, bekerja dari mana saja, bahkan menyuarakan isu sosial melalui berbagai platform.
Tapi di balik peluang itu, ada tantangan yang tidak bisa diabaikan.
Masih ada ketimpangan akses, terutama di wilayah tertentu. Tidak semua perempuan punya kesempatan yang sama untuk memanfaatkan teknologi. Selain itu, persoalan klasik seperti keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi masih menjadi beban yang nyata.
Belum lagi hambatan budaya yang dalam beberapa konteks masih membatasi ruang gerak perempuan. Jadi, meskipun dunia terlihat semakin terbuka, kenyataannya tidak semua orang berdiri di garis start yang sama.
Dunia Kesehatan: Perempuan Mendominasi, Tapi Belum Memimpin
Sesi berikutnya yang dibawakan oleh Dr. Siti Jumhati justru mengungkap fakta yang cukup “menampar”.
Sekitar 67% tenaga kesehatan di dunia adalah perempuan. Angka yang besar. Artinya, perempuan adalah tulang punggung dalam pelayanan kesehatan global.
Namun, hanya 25% yang berada di posisi kepemimpinan.
Di sini terlihat jelas adanya kesenjangan. Perempuan bekerja di garis depan, tetapi belum banyak terlibat dalam pengambilan keputusan strategis. Padahal, keputusan-keputusan itulah yang menentukan arah sistem kesehatan secara keseluruhan.
Ini bukan sekadar soal angka. Ini soal siapa yang punya suara.
Perempuan Sebagai Agen Perubahan, Bukan Sekadar Pelengkap
Lebih jauh, Dr. Siti menjelaskan bahwa peran perempuan di sektor kesehatan sangat luas. Mereka bukan hanya tenaga medis yang memberikan layanan, tapi juga:
Pendidik masyarakat dalam hal kesehatan
Inovator dalam pengembangan teknologi kesehatan
Penggerak dalam sistem pelayanan kesehatan
Bahkan pemimpin dalam perubahan kebijakan
Artinya, perempuan bukan hanya “pelaku”, tapi juga “pengarah”. Yang sering terjadi, kontribusi ini berjalan tanpa sorotan yang cukup. Padahal tanpa peran perempuan, sistem kesehatan akan kehilangan fondasi utamanya.
Lebih Dari Sekadar Webinar: Ini Tentang Arah Masa Depan
Kalau dilihat sekilas, webinar ini mungkin terlihat seperti kegiatan akademis biasa. Tapi sebenarnya, ada pesan yang lebih dalam.
Ini tentang bagaimana kita melihat perempuan hari ini.
Apakah masih sebagai pihak yang “dibantu”?
Atau sebagai pihak yang “membantu perubahan”?
Webinar ini dengan jelas menunjukkan bahwa perempuan bukan lagi objek pembangunan. Mereka adalah subjek. Mereka terlibat, berkontribusi, dan memimpin. Semangat Kartini yang Tidak Pernah UsangMenariknya, semua pembahasan ini kembali ke satu nama: Kartini. Bukan sekadar simbol, tapi representasi perjuangan yang masih relevan sampai sekarang. Jika dulu Kartini berjuang untuk akses pendidikan, hari ini perjuangan itu berkembang menjadi akses terhadap peluang, kepemimpinan, dan kesetaraan. Dan perjuangan itu belum selesai.
Penutup: Dari Inspirasi ke Aksi Nyata
Webinar ini tidak hanya memberi wawasan, tapi juga dorongan. Dorongan untuk bergerak lebih jauh.Pesannya sederhana tapi kuat: perempuan harus terus berkembang, berani mengambil peran, dan tidak ragu untuk berada di garis depan perubahan. Karena pada akhirnya, masyarakat yang inklusif dan berkelanjutan tidak bisa dibangun hanya oleh satu kelompok. Dibutuhkan kolaborasi, dan perempuan adalah bagian penting di dalamnya.
Kalau hari ini kita masih melihat ketimpangan, itu bukan alasan untuk berhenti. Justru itu alasan untuk bergerak lebih cepat.

Komentar
Posting Komentar